Surat Cinta

Untuk cinta dan cita-cita,
Ajeng.

Segala bentuk pertengkaran sudah pernah terlakukan oleh tingkah-polah kemanusiaan kita. Aku selalu sadar bahwa tak selamanya laku kita menjadi sebuah langkah bijak yang berbaik. Tindak-tanduk yang telah, dan barangkali juga akan, terjadi yang mengiringi langkah kebersamaan kita, banyak yang memberikan efek negatif. Tak jarang, ia melahirkan pertengkaran.

Aku sudah berusaha dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Pun, aku begitu percaya bahwa kamu pun demikian. Setiap kesalahan-kesalahan yang senantiasa mengiringi kebersamaan kita, pada akhirnya selalu memberikan pelajaran baru, pengalaman baru. Dalam hal demikian, kita selayaknya bersyukur karena masih dan terus mampu menghadapinya, bersama-sama.

Aku tak tahu apakah kamu punya kesedihan jika menghadapi kenakalanku, atau kesedihan yang bersebab oleh kedunguanku. Aku benar-benar tak tahu. Bagiku, kamu pandai menyembunyikan kesedihan. Namun sekaligus aku mengkhawatirkan kalau-kalau sejauh ini kamu tak pernah merasai sedih.

Ini benar-benar mengkhawatirkan. Aku sungguh tak berharap kamu menjadi manusia yang tak memiliki perasaan sedih. Ia akan menjauhkanmu dari sisi-sisi kemanusiaan. Untuk ini, jika kamu bersedih karenaku, bersedihlah di hadapanku agar aku tahu, agar aku mampu mendampingi kesedihanmu dengan hiburan-hiburan.

Bagaiman denganku? Aku boleh kamu tuduh gampang emosi, mudah marah, sering jengkel dan sebagainya. Tetapi percayalah padaku, aku memiliki rasa-rasa sedih yang sering terekspresikan melalui tindakan-tindakan tak layak semacam itu. Dalam amarahku, aku memiliki kesedihan yang ingin kuungkapkan.

Melalui ini, aku ingin sekali menjelaskan kepadamu tentang siapa diriku. Barangkali, selama ini yang menjadi penyebab gesekan-gesekan menyakitkan di antara kita sejatinya adalah karena kurangnya kita saling mengenali masing-masing. Melalui ini, aku ingin kamu membuka lagi matamu, mata hatimu, untuk kemudian menilaiku dengan apa saja maumu.

Agar kamu dapat memahaminya dengan lebih mudah, aku akan membagi tentangku ini menjadi tiga bagian. Pertama, tentang keluargaku. Kedua, tentang kepribadianku. Ketiga, tentang cita-citaku.

Keluarga
Aku terlahir sebagai anak dari buruh. Bapakku adalah seorang tukang ngecap. Emak, buruh nyolet, dan sebelum kelahiranku, pada akhir tahun 80an, Emak adalah seorang TKW di Saudi. Aku lahir setelah Emak pulang merantau. Selama Emak merantau, aku belum lahir, Bapak ke Jakarta sebagai penjual tempe.

Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup sebagai medioker. Bukan menjadi curahan kasih sayang utama dari orang tua. Salah satu sebabnya, aku punya adik kandung yang hanya terpaut usia tak lebih dari dua tahun. Kamal. Iya.

Aku dan Kamal harus selalu berbagi pada apa saja yang diberikan oleh Emak dan Bapak. Tentu saja berbagi pula dengan kelima kakak-kakakku. Beruntung, pada usiaku yang ke 10, Bapak menjelma menjadi buruh sukses. Iya, masih buruh. Tapi sukses karena mampu memiliki penghasilan di atas rata-rata buruh pada umumnya. Aku merasakan betul hal ini. Pada titik itu, aku dianggap sebagai anak orang kaya, meski sampai sekarang aku tak bisa menerima anggapan semacam itu.

Pada usia kedewasaanku, kondisi keluargaku semakin ke sini semakin menurun secara kualitas ekonomi maupun yang lainnya. Pendidikan, dari tujuh anak-anaknya Bapak-Emak, tak ada satupun yang berhasil mencapai jenjang strata. Aku sebenarnya sangat malu akan hal ini. Sangat malu. Bagaimanapun, aku selalu bermimpi menjadi seorang yang memiliki pendidikan tinggi, setinggi mungkin.

Beruntungnya, aku sempat disekolahkan di luar daerah. Di sana, setidaknya ada pembentukan karakter kuat mengenai siapa aku.

Kepribadian
Barangkali sebagian dari kepribadianku sudah kamu ketahui. Maka darinya, aku tak akan berbicara banyak mengenai hal ini. Yang barangkali perlu kusampaikan adalah bahwa aku, sejak dulu, selalu dianggap sebagai seorang yang banyak diam tapi emosional.

Kepribadianku semacam ini berdampak pada bagaimana aku bersosialisasi. Aku tak banyak berbicara jika bukan pada tempat dan situasi di mana aku harus berbicara. Namun di sisi lain, aku mudah untuk tertarik. Darinya, aku menjadi pendiam sekaligus diam-diam mempelajari banyak hal, ini-itu. Hal ini yang kemudian menjadikanku ingin mengklaim sebagai pribadi yang sedikit tahu dari banyak hal. Banyak hal yang kuketahui, tapi hanya sekilas-sepintas.

Selain itu, sisi emosionalku seringkali tak mampu kukontrol. Bukan hanya dalam kemarahan. Aku sering pula mendadak sedih jika mendengar atau melihat sesuatu yang menyentuh perasaan. Melihat petani berjejer di pinggir jalan di sore hari menunggu tumpangan saja, aku bahkan sering terharu.

Perasaan ini mengantarkanku menjadi pribadi yang bisa dibilang egois. Aku ingin apa-apa sesuai perasaanku. Imbasnya, banyak perkara yang kemudian hanya merugikanku karena terlaku kuanggap dan kutangkap melalui perasaan. Aku jadi seorang yang harus pura-pura tangguh meski sebenarnya sedang bersedih. Harus marah meski sebenarnya sedih. Harus emosi mendadak meski sejatinya tengah bersedih.

Itulah kenapa otakku seringkali tiba-tiba teringat bahwa kamu sudah banyak menikmati kesenangan, tetapi banyak pula di antaranya, bukan bersamaku. Aku begitu sedih mengingat hal ini, yang sebenarnya kesedihan ini seakan hanya kubuat-buat sendiri.

Aku masih belum mampu menerima, bagaimana bisa kamu bisa dengan mudah bersenang-senang dengan teman-teman di lingkaran sosialmu, tetapi seringkali sulit untuk kuajak bersenang-senang? Selalu ada saja penghalang yang menggagalkannya. Ini, bisa saja aku tak menghiraukan pikiran-pikiran semacam ini. Tapi itu, tadi, aku seringkali menjadi emosional dalam menghadapi persoalan-persoalan. Lalu apa bahayanya? Sejauh ini, bahaya yang paling sering kurasa dan takutkan adalah bahwa kamu selalu tak mampu menemukan cara untuk menghadapi aku yang seperti ini. Kamu seringkali kemudian memilih diam.

Aku, lalu kian menjadi-jadi. Aku kian merasa bahwa kamu memang tak mau untuk kuajak bersenang-senang. Atau, jangan-jangan kita selama ini salah mengartikan “senang-senang”? Iya. Kita. Kamu dan aku.

Cita-cita
Sejak awal kita memutuskan untuk bercinta, aku sudah mengambil ancang-ancang bahwa suatu hari aku akan dibenci banyak orang. Aku yakin itu akan terjadi. Maka yang selalu harus kupersiapkan adalah keseriusan dalam mencintaimu. Aku siap dibenci sebanyak mungkin orang, asalkan cintaku kepadamu dapat tumbuh menjadi cinta yang sejati. Yang tak gugur di segala jenis musim. Aku ingin cinta ini kemudian mengantarkanku pada ketenangan.

Pertanyaannya, apakah selama ini aku dan kamu sudah berhasil mengais rasa-rasa ini menjadi sebuah cinta? Untuk menjawabnya, kita mau tak mau harus menoleh ke belakang. Benarkah kita selama ini saling menguatkan? Benarkan aku sudah menjauhi hal-hal yang kamu benci? Sudahkah kamu berhenti dari segala perkara yang tak kusukai? Dan beberapa pertanyaan lain yang sejenisnya. Dari menanyakan hal-hal ini, kita kemudian dapat membuat keputusan final apakah kita selama ini sudah iya, atau belum.

Agar tidak melebar jauh, pertanyaan itu tidak akan kusampaikan jawabannya di sini. Biarlah mereka menjadi pertanyaan yang jawabannya kita simpan sebagai pembenahan diri masing-masing. Tapi bagaimanapun, setidaknya sampai detik ini aku masih yakin aku mampu mencintaimu dengan benar dan sungguh-sungguh.

Karenanya, aku kemudian merangkai cita-citaku. Tahukah kamu bahwa dalam semua cita-citaku, aku selalu menyertakanmu? Iya, kamu harus tahu. Segala cita-cita yang sedang ingin kuraih, kesemuanya selalu melibatkanmu. Karena apa? Karena bagiku memiliki kehidupan ini bersamamu merupakan cita-citaku. Aku dan kamu harus selalu kuat untuk bersama. Karena kamu, kamu adalah cita-cita yang sedang ingin dan akan kuraih.

Dari hati,
Khalid.

Advertisements